PGRI Sebut 85 Persen Orang Tua Cemas Jika Bulan Juli Anak-anaknya Kembali ke Sekolah

- 7 Juni 2020, 18:52 WIB
Ketua Umum PB PGRI Prof Dr Unifah Rosyidi saat membuka webinar dan pelatihan “Self Driving for Teacher: Menciptakan Pola Belajar yang Efektif dari Rumah" di Jakarta, Sabtu 2 Mei 2020.
Ketua Umum PB PGRI Prof Dr Unifah Rosyidi saat membuka webinar dan pelatihan “Self Driving for Teacher: Menciptakan Pola Belajar yang Efektif dari Rumah" di Jakarta, Sabtu 2 Mei 2020. //ANTARA/Indriani

RINGTIMES BANYUWANGI - Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menyebutkan bahwa ada 85,5 persen orang tua cemas jika anak-anaknya kembali ke sekolah pada bulan Juli mendatang.

"PGRI juga melakukan sejumlah survei terkait dengan harapan orang tua, anak, dan guru terhadap rencana pembukaan sekolah. Sebanyak 85,5 persen orang tua cemas jika sekolah dimulai pada pertengahan Juli ini," ujar Prof Unifah Rosyidi, ketua umum PB PGRI, dalam halal bihalal virtual di Jakarta, Sabtu 6 Juni 2020.

Tetapi, hasil sebaliknya terjadi pada anak. Sekitar 65 persen anak-anak berharap mereka dapat kembali bersekolah.

Baca Juga: Berdasarkan BMKG, Sebagian Wilayah Kota Bandung Mulai Memasuki Musim Kemarau

Hasil survei itu, kata Unifah, dapat dipahami dan wajar. Sebab, anak sudah terlalu lama tinggal di rumah, sehingga ada kejenuhan dan rindu pada suasana di sekolah.

Bagi guru, seperti dikutip dari Antara, sebanyak 57 persen siap kembali mengajar dan 43 persen memilih mengajar dari rumah.

PGRI juga melakukan serangkaian survei periodik terkait dengan kesiapan guru dengan pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh.

Baca Juga: Jika Aksi Protes di AS Tak Segera Diatasi, Pakar Sebut Trump Dihadapi Pemakzulan

Seperti kami kutip dari artikel berjudul Bila Juli Anak Kembali ke Sekolah, PGRI Sebut 85 Persen Orang Tua Merasa Cemas

"Hasilnya sangat menarik. Sebab, gerakan untuk belajar dirasakan di mana-mana. Pemerintah harus memanfaatkan ini sebagai suatu momentum untuk melakukan pembenahan pendidikan nasional dalam waktu dekat," sarannya.

Meski demikian, PGRI meminta agar tahun ajaran baru tetap dengan menggunakan metode pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh.

Tahun ajaran baru yang dimulai pada pertengahan Juli 2020, tetapi dilaksanakan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) dalam bentuk daring (online) luring (offline) dan campuran keduanya (blended learning) dengan mempertimbangkan beragam aspek.

Baca Juga: Pasangan Musisi Melly Goeslaw dan Anto Hoed Akan Peringati 25 Tahun Pernikahannya

PGRI juga meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan dan mendengar pertimbangan para ahli untuk siswa kembali masuk sekolah dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan anak, guru dan warga sekolah lainnya.

"Pemerintah juga perlu berhati-hati dalam penetapan zona, karena ada zona sekolahnya hijau, namun zona tempat tinggal guru atau muridnya di zona merah," kata dia lagi.(penulis: Firda Marta Rositasari)

Editor: Firda Marta Rositasari

Sumber: Portal Jember Pikiran Rakyat


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x