Ivermectin dan Steroid Tak Boleh Dikonsumsi Sembarangan oleh Pasien Covid 19, Ini Kata Pakar

- 15 September 2021, 17:48 WIB
Pakar sebut cara penanganan pasien Covid-19 menggunakan ivermectin dan steroid sering salah.
Pakar sebut cara penanganan pasien Covid-19 menggunakan ivermectin dan steroid sering salah. /Pixabay/Qimono/

RINGTIMES BANYUWANGI – Seorang pakar dari Amerika Serikat Faheem Younus mengungkap bahaya penanganan pasien Covid-19 menggunakan Ivermectin dan Steroid jika dilakukan sembarangan.

Menurut Faheem, menangani pasien Covid-19 dengan menggunakan Ivermectin dan Steroid terbilang cara yang sudah kuno.

Penggunaan kedua jenis obat tersebut harus dilakukan dibawah pantauan dokter dan penanganan rumah sakit.

Baca Juga: Menlu Afghanistan Mendesak Seluruh Negara untuk Terlibat dengan Taliban

Namun tak jarang jika penggunaan Ivermectin dan Steroid digunakan bagi orang yang hanya melakukan isolasi mandiri di rumah.

Isolasi mandiri biasanya disarankan dokter bagi pasien yang tidak memiliki gejala berat, atau tanpa gejala.

Untuk mempercepat penyembuhan, dokter akan memberikan jenis obat yang bisa dikonsumsi untuk penyembuhan di rumah.

Baca Juga: Taliban Ungkap Alasan China Mendukung Kekuasaan Mereka di Afghanistan

Hal ini dinilai Faheem sebagai cara menangani pasien Covid-19 yang salah dan fatal jika masih dilakukan terutama menggunakan ivermectin dan steroid.

"Jika Anda positif Covid-19 dan tidak dirawat di rumah sakit, dokter Anda memberikan HCQ, ivermectin, steroid, vitamin atau antibiotik, Anda mendapatkan perawatan yang salah," kata Faheem Younus dikutip dari akun Twitter pribadinya.

Faheem Younus menolak penggunaan jenis obat-obatan keras untuk pasien Covid-19 karena dinilai tidak efisien untuk menangani kondisi tubuh pasien Covid-19.

Baca Juga: Penyebab Taliban Anut Radikalisme, Ini Kata Intelejen

Meski demikian, Faheem menyebutkan obat tersebut masih bisa digunakan dengan catatan penggunaan yang tepat.

"Penanganan yang benar yaitu dengan menangani gejalanya atau jika pasien tersebut memiliki risiko tinggi, bisa menggunakan monoclonal antibody," ujar Younus.***

Editor: Shofia Munawaroh


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x