Terkait Utang Indonesia Membengkak, Ini Kata Sri Mulyani

24 Juli 2020, 17:45 WIB
Menteri Sri Mulyani. *kemenkeu.go.id /kemenkeu.go.id/

RINGTIMES BANYUWANGI - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, karena posisi utang Indonesia saat ini didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi rupiah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang merinci posisi utang pemerintah per akhir Juni 2020 meningkat menjadi Rp5.264,07 triliun. Bahkan utang tersebut bertambah Rp484,8 triliun dari posisi akhir 2019 Rp4.779 triliun seiring adanya kebutuhan dana untuk menangani masalah kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional dampak dari Covid-19.

"Pembiayaan utang dengan instrumen utang secara hati-hati serta prudent, efisien, dan akuntabel," kata Sri Mulyani dalam webinar di Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Baca Juga: Berikut Tren Kacamata Fashionable di Tahun 2020, yang Bisa Kamu Gunakan untuk Kegiatan Sehari-hari

Menurutnya, seiring kenaikan tersebut, rasio utang pemerintah terhadap PDB pun jadi membengkak menjadi 32,67% dibandingkan pada akhir 2019 lalu yakni sebesar 29,8%. Rasio utang ini juga diprediksi akan terus meningkat hingga 2021.

"Komposisi utang pemerintah masih didominasi dalam bentuk SBN yakni 83,9% atau Rp4.472,22 triliun. Sementara itu, porsi pinjaman 16,1% atau Rp791,85 triliun," jelasnya.

Sri Mulyani juga menjelaskan, saat ini kondisi pasar Surat Berharga Negara (SBN) RI sudah semakin membaik saat ini. Bahkan hal ini terlihat dari kinerja lelang dan imbal hasil alias yield SBN. "Kami berharap konfiden serta kepercayaan kepada RI akan terus menguat," kata Sri Mulyani.

Baca Juga: Anda Penggemar dr. Reisa? Kini Dokter Cantik ini Kembali Hadir sebagai Jubir Satgas Covid-19

Dari kinerja lelang, Sri Mulyani juga menjelaskan, semakin membaiknya kondisi pasar SBN Indonesia terlihat dari jumlah penawaran yang masuk alias incoming bids. Hingga semester II 2020, total incoming bids SBN tercatat mencapai Rp1.423 triliun.

Apalagi, partisipasi Bank Indonesia yang ikut turun ke lelang SBN di pasar primer menurut dia memberi kepercayaan pasar yang luar biasa. "Kerja sama pemerintah dengan BI untuk terus jaga ekonomi yang tertekan dinilai sangat penting," imbuhnya.

Dalam artikel yang dipublikasikan Warta Ekonomi berjudul “Sri Mulyani Beberkan Fakta di Balik Bengkaknya Utang Indonesia,”selain itu, perbaikan kondisi pasar SBN disebutkan Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga tercermin dari penurunan imbal hasil alias yield SBN. Adapun, yield SBN 10 tahun RI turun dari kisaran 8,2% pada 2019 menjadi 7% pada pertengahan Juli 2020.

Baca Juga: Berikut Tren Kacamata Fashionable di Tahun 2020, yang Bisa Kamu Gunakan untuk Kegiatan Sehari-hari

Maka dari itu, ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus berusaha memulihkan ekonomi dari dampak negatif pandemi. "Sehingga kepercayaan investor akan menguat dan ini akan muncul dalam bentuk penurunan yield yang diharapkan dapat terus berlanjut," tandasnya.***

 

 

 

Editor: Sophia Tri Rahayu

Sumber: Warta Ekonomi

Tags

Terkini

Terpopuler